Sumur Resapan adalah Sistem peresepan yang mampu menampung air hujan yang langsung melalui atap atau pipa talang bangunan. Bentuknya bisa berupa sumur, kolam, parit, atau lubang biopori.

Fungsinya adalah untuk meresapkan air ke dalam tanah atau mengisi kembali air tanah yang dangkal. Tujuannya untuk mengurangi erosi, menyimpan dan menaikan permukaan air tanah dalam rangka penyelamatan sumberdaya air.

Air yang diresapkan haruslah air hujan yang tidak tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga (minimal mutu air kelas tiga)

Bagaimana sebenarnya sumur resapan itu bekerja? Air hujan yang jatuh ke halaman kita setidaknya 85 persen harus bias diserap oleh halaman tersebut agar tidak meluapkan banjir. Halaman rumah kita secara alamiah bias menyerap curahan air hujanyang jatuh, termasuk dari atap rumah, yang mengalir melalui talang. Di sini sumur resapan akan mengurangi sumbangan bencana banjir dengan mengurangi sumbangan run off air hujan.

Dibawah tanah, resapan ini akan masuk merembes lapisan tanah yang disebut sebagai lapisan tidak jenuh, dimana tanah (dari berbagai jenis) masih bias menyerap air, kemudian masuk menembus permukaan tanah (water table) di mana dibawahnya terdapat air tanah (ground water) yang terperangkap di lapisan tanah yang jenuh. Air tanah inilah yang sebenarnya kita konsumsi.

Masuknya air hujan melalui peresapan inilah yang menjaga cadangan air tanah agar tetap bisa dicapai dengan mudah. Ini karena permukaan air tanah memang bisa berubah-ubah, tergantung dari suplai dan eksploitasinya. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah kita tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai.

Bagaimana sebaiknya Sumur Resapan di Pekarangan Rumah Kita Dibuat? Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor: 06-2459-2002 tentang Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan menetapkan beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan yaitu :

  1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.
  2. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum 5 meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 meter dari fondasi bangunan.
  3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.
  4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu :
  • Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm per jam.
  • Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm per jam.
  • Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam.

Adapun beberapa ketentuan lain untuk pembangunan konstruksi sumur resapan adalah :

  1. Sumur resapan harus memiliki tangkapan air hujan berupa suatu bentang lahan baik berupa lahan pertanian atau atap rumah.
  2. Sebaiknya dilakukan penyaringan air di bak  kontrol terlebih dahulu sebelum masuk kedalam sumur resapan.
  3. Bak kontrol terdiri-dari beberapa lapisan  berturut-turut adalah lapisan gravel (kerikil), pasir kasar, pasir dan   ijuk.
  4. Dasar sumur yang berada di lapisan kedap air diisi batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm setebal 15 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga.
  5. Menggunakan pipa PVC berdiameter 110 mm untuk pipa pemasukan dan pipa pengeluaran. Untuk pipa pengeluaran letaknya lebih rendah dari pada pipa pemasukan sebagai antisipasi manakala terjadi overflow/luapan air di dalam sumur.
  6. Diameter sumur bervariasi tergantung pada besarnya curah hujan, luas tangkapan air, konduktifitas hidrolika lapisan aquifer, tebal lapisan aquifer dan daya tampung lapisan aquifer. Pada umumnya diameter berkisar antara 1 – 1,5 m sedalam ± 1,5 m
  7. Tergantung pada tingkat kelabilan/kondisi lapisan tanah dan ketersediaan dana yang ada, dinding sumur dapat dilapis pasangan batu bata kosong atau buis beton. Akan lebih baik bila dinding sumur dibuat lubang-lubang air dapat meresap juga secara horizontal.
  8. Untuk menghindari terjadinya gangguan atau kecelakaan maka bibir sumur dapat dipertinggi dengan pasangan bata dan atau ditutup dengan papan/plesteran atau plat beton.

Cara pembuatan sumur resapan dibedakan menurut kondisi rumah dan lingkungannya, antara lain berdasarkan :

  1. Rumah Bertalang Air
  2. Rumah Tidak Bertalang
  3. Areal Terbuka atau Taman
  4. Komunal atau Bersama
  5. Lubang Biopori

1. Model Sumur Resapan untuk Rumah Bertalang Air :

  • Pilih lokasi yang berjarak 1 m atau lebih dari pondasi rumah dan dekat dengan lokasi talang pembuangan air hujan
  • Air hujan dari talang langsung di masukkan ke dalam sumur resapan melalui pipa pralon (pipa pemasukan)
  • Pada sumur resapan diberi pipa pembuang ke selokan / drainase jalan. Ketinggian pipa pembuangan harus lebih tinggi dari muka air tanah tertinggi pada selokan drainase jalan tersebut.

2. Model Sumur Resapan untuk Rumah Tidak Bertalang Air :

  • Pada umumnya sama dengan tipe rumah bertalang air, namun untuk rumah tidak bertalang, digunakan tambahan parit dengan lubang biopori dan bak kontrol sebelum air masuk ke sumur resapan.
  • Buat parit sepanjang curahan air hujan dari atap dengan lebar 20 – 30 cm dan kedalaman 10 – 15 cm dengan jumlah 10 lubang resapan biopori sepanjang parit  (lihat cara pembuatan lubang resapan biopori).  Apabila parit  pendek sehingga jumlah lubang tidak terpenuhi maka dapat dihubungkan dengan sumur resapan yang mempunyai bak kontrol sebagai penyaring sedimen

Jenis Konstruksi Sumur Resapan antara lain :

Konstruksi Tanah

Konstruksi Bata

Konstruksi Buis Beton

Dalam Pergub Lampung Nomor 15 Tahun 2007, Bab IV kewajiban pembuatan sumur resapan bagi perorangan dan badan hukum ditujukan kepada :

  1. setiap penanggung jawab bangunan yang menutupi permukaan tanah;
  2. setiap pemohon dari pengguna sumur dalam;
  3. setiap pemilik bangunan berkonstruksi pancang dan/atau memanfaatkan air tanah dalam yang lebih dari 40 meter;
  4. setiap usaha industri yang memanfaatkan air tanah permukaan.

selain itu, kewajiban pembuatan sumur resapan juga ditujukan kepada setiap pengembang yang akan membangun  di atas lahan lebih dari 5.000 m2 dan diwajibkan pula menyiapkan 1% dari lahan yang akan digunakan untuk bangunan kolam reapan diluar perhitungan sumur resapan.

(ree)